Suatu pagi, Naira mengajak Arga bertemu di sebuah taman.
Tidak ada senyum seperti biasanya di wajah wanita itu. Matanya terlihat lelah, seolah telah menyimpan terlalu banyak kekecewaan.
“Ga, aku mau bicara sesuatu.”
Arga memperhatikan wajahnya. “Kenapa, Nai? Kamu ada masalah?”
Naira terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Aku capek.”
Dua kata itu membuat Arga terdiam.
“Aku capek mengingatkan kamu setiap hari. Aku capek mendengar janji yang sama. Aku tahu kamu ingin berubah, tapi aku tidak bisa terus-menerus menjadi orang yang harus mendorongmu.”
Arga menunduk.
“Aku sudah berusaha, Nai.”
“Aku tahu. Aku percaya kamu punya niat baik. Tapi sampai kapan, Ga? Aku bukan ingin kamu menjadi sempurna. Aku cuma ingin kamu belajar menepati janji kepada dirimu sendiri.”
Air mata mulai menggenang di mata Naira.
“Aku ingin melihat kamu tumbuh. Aku ingin suatu hari nanti kita membangun keluarga bersama, tetapi aku juga ingin punya pasangan yang bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.”
Arga mengangkat wajahnya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia sungguh-sungguh, bahwa ia tidak pernah bermaksud menyakiti Naira. Namun, kata-kata itu terasa tidak berarti lagi.
Selama ini, ia terlalu sering meminta kesempatan tanpa menunjukkan hasil yang bertahan lama.
“Aku sayang sama kamu, Ga,” lanjut Naira. “Tapi untuk sekarang, aku perlu berhenti. Aku perlu memikirkan diriku sendiri.”
Naira kemudian berdiri dan meninggalkan taman itu dengan langkah pelan.
Arga tidak mengejarnya.
Ia hanya duduk diam, memandangi tempat yang baru saja ditinggalkan wanita yang selama ini selalu percaya
kepadanya.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan akibat dari kebiasaannya.
Bukan sekadar terlambat bangun. Bukan sekadar melewatkan pagi.
Ia hampir kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Bukan karena bermain ponsel atau menonton video hingga larut malam, melainkan karena pikirannya dipenuhi perkataan Naira.
Ia membuka kembali percakapan mereka. Ada begitu banyak pesan sederhana yang dulu ia anggap biasa.
“Sudah bangun, sayang?”
“Jangan lupa sarapan.”
“Semangat menjalani hari ini, ya.”
Dan pesan yang paling membuat dadanya sesak adalah pesan yang dikirim Naira beberapa bulan sebelumnya.
“Aku percaya kamu bisa menjadi lebih baik. Aku akan selalu mendukungmu selama kamu juga mau berusaha.”
Arga memejamkan mata.
Selama ini, ia mengira Naira akan selalu berada di sana untuk mengingatkannya. Ia terlalu nyaman dengan kesabaran wanita itu sampai lupa bahwa kesabaran seseorang juga memiliki batas.
“Aku tidak mau berubah hanya supaya Naira kembali,” bisiknya kepada diri sendiri. “Aku harus berubah karena aku sendiri sudah lelah hidup seperti ini.”
Malam itu, Arga membuat keputusan.
Ia tidak akan lagi mengandalkan janji besar yang hanya bertahan satu malam. Ia akan memulai dengan langkah kecil, meskipun hasilnya tidak langsung terlihat.
Kali ini, ia ingin membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri.
Hari pertama dimulai dengan cara yang sederhana.
Arga mematikan ponselnya lebih awal, menyiapkan pakaian untuk esok hari, dan meletakkan alarm di atas meja yang jauh dari tempat tidur.
Ketika alarm berbunyi pukul empat pagi, ia terbangun dengan berat hati.
Tangannya hampir saja menekan tombol tunda.
Namun, ia teringat wajah Naira di taman.
Ia pun bangkit, mematikan alarm, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Pagi itu terasa sangat panjang. Udara masih dingin, matanya berat, dan tubuhnya ingin kembali ke tempat tidur. Akan tetapi, ia berhasil melewati godaan tersebut.
Ia menunaikan salat subuh, menyapu halaman rumah, lalu berjalan kaki sebentar di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Ketika matahari mulai terbit, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya.
Ia merasa lebih tenang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa telah memenangkan pertarungan kecil melawan dirinya sendiri.
Namun, perjuangan belum selesai.
Hari berikutnya, ia kembali merasa mengantuk. Pada hari ketiga, ia hampir menyerah. Pada hari kelima, ia sempat terlambat bangun.
Dahulu, satu kegagalan saja cukup untuk membuatnya kembali pada kebiasaan lama.
Kali ini, ia belajar untuk tidak menyerah hanya karena satu hari yang buruk.
Jika terlambat bangun, ia mengevaluasi penyebabnya. Jika tidur terlalu malam, ia memperbaiki jadwal malam berikutnya. Jika tubuhnya terlalu lelah, ia mengatur aktivitas agar tidak memaksakan diri.
Ia mulai memahami bahwa perubahan bukan tentang menjadi sempurna setiap hari, melainkan tentang kembali berusaha setelah mengalami kegagalan.
Minggu demi minggu berlalu.
Arga mulai menemukan cara yang paling cocok untuk dirinya.
Ia mengurangi penggunaan ponsel sebelum tidur. Ia membuat jadwal harian dan menuliskan tiga hal yang ingin diselesaikannya setiap pagi. Ia juga mulai berolahraga ringan agar tubuhnya lebih bugar.
Untuk menjaga konsistensi, ia membuat kalender kecil di dinding kamarnya. Setiap kali berhasil bangun sesuai target, ia memberi tanda centang.
Awalnya hanya ada beberapa tanda.
Lalu semakin banyak.
Ada hari-hari ketika ia gagal, tetapi kini ia tidak lagi menganggap kegagalan sebagai alasan untuk berhenti.
Ia belajar mengatur waktu, menyelesaikan pekerjaan lebih awal, membantu orang tuanya menyiapkan sarapan, dan memanfaatkan pagi untuk membaca serta mengembangkan kemampuannya.
Tanpa disadarinya, pagi yang dahulu terasa seperti musuh perlahan menjadi bagian yang paling ia sukai.
Ia mulai menikmati suasana jalanan yang masih sepi, udara segar setelah subuh, dan secangkir teh hangat sambil menyusun rencana hari itu.
Yang paling penting, ia tidak lagi membutuhkan seseorang untuk terus-menerus membangunkannya.
Ia mulai bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Pada suatu pagi, ketika sedang menyiram tanaman di halaman rumah, ibunya menghampirinya sambil tersenyum.
“Sepertinya sekarang Ibu tidak perlu membangunkanmu lagi, ya?”
Arga tertawa kecil.
“Iya, Bu. Ternyata bangun pagi itu bukan cuma soal alarm. Aku harus mengubah kebiasaanku dari malam sebelumnya.”
Ibunya mengangguk bangga.
“Bagus. Pertahankan, ya. Perubahan yang baik memang harus dijaga.”
Arga tersenyum. Ia teringat seseorang yang dahulu selalu mengucapkan kalimat serupa kepadanya.
Naira.
Sudah beberapa bulan sejak pertemuan terakhir mereka. Mereka tidak lagi berkomunikasi seperti dulu. Arga memilih menghormati keputusan Naira dan tidak memaksanya untuk kembali.
Ia tahu dirinya belum berhak meminta kesempatan kedua hanya karena telah mengalami perubahan.
Jika suatu hari mereka bertemu lagi, ia ingin Naira melihat perubahan itu dengan matanya sendiri, bukan sekadar mendengar janji dari mulutnya.
























