Menggunakan tema JNews di WordPress memberikan banyak keuntungan, terutama bagi website yang memiliki banyak artikel, thumbnail, kategori, widget, dan berbagai elemen visual. Namun, semakin lengkap sebuah tema, semakin penting pula pengelolaan performanya.
Di sinilah LiteSpeed Cache dapat membantu.
LiteSpeed Cache bukan hanya digunakan untuk membuat halaman tersimpan dalam cache. Plugin ini menyediakan berbagai fitur yang saling berhubungan, mulai dari page cache, object cache, optimasi gambar, CSS, JavaScript, HTML, lazy load, hingga integrasi dengan QUIC.cloud.
Masalahnya, banyaknya pilihan tersebut justru sering membuat pengguna bingung.
Apakah semua fitur harus diaktifkan?
Apakah CSS harus digabungkan?
Apakah JavaScript harus ditunda?
Apakah Redis perlu digunakan?
Apakah crawler harus diaktifkan?
Dan yang paling penting, apakah pengaturan tersebut aman digunakan bersama JNews?
Artikel ini membahas setting LiteSpeed Cache untuk JNews berdasarkan konfigurasi yang digunakan pada Navin.id. Jadi, pembahasannya tidak sekadar teori, tetapi menjelaskan alasan di balik pilihan konfigurasi yang digunakan.
Tujuannya bukan mencari setting yang paling agresif. Tujuan utamanya adalah mendapatkan kombinasi kecepatan, stabilitas, kompatibilitas, dan kemudahan pemeliharaan.
Catatan: setiap website memiliki kondisi server, plugin, jumlah konten, dan kebutuhan yang berbeda. Gunakan konfigurasi ini sebagai referensi, kemudian lakukan pengujian pada website sendiri setelah setiap perubahan.
Mengapa LiteSpeed Cache Penting untuk JNews?
JNews merupakan tema WordPress yang memiliki banyak fitur untuk membangun website berita, majalah, blog, portal teknologi, maupun website dengan konten yang cukup kompleks.
Dalam sebuah halaman JNews, browser dapat menemukan berbagai komponen seperti:
- featured image;
- thumbnail artikel;
- grid posting;
- widget;
- menu;
- stylesheet;
- JavaScript;
- font;
- elemen responsif;
- iframe;
- dan komponen dinamis lainnya.
Jika semuanya harus diproses dari awal setiap kali halaman dibuka, server akan melakukan pekerjaan yang berulang.
LiteSpeed Cache membantu mengurangi pekerjaan tersebut dengan menyimpan hasil proses tertentu sehingga permintaan berikutnya dapat dilayani dengan lebih efisien.
Namun, ada satu hal yang perlu dipahami.
Website cepat bukan berarti semua fitur LiteSpeed Cache harus diaktifkan.
Justru pada tema seperti JNews, konfigurasi yang terlalu agresif dapat membuat beberapa elemen membutuhkan penyesuaian tambahan.
Karena itu, pendekatan yang digunakan pada Navin.id adalah mengaktifkan fitur yang memberikan manfaat nyata, sementara fitur yang belum diperlukan dibiarkan nonaktif.
1. Menyiapkan Cache LiteSpeed
Cache halaman merupakan fondasi utama optimasi LiteSpeed Cache.
Pada konfigurasi Navin.id, cache halaman publik digunakan agar halaman yang sering dikunjungi tidak perlu diproses sepenuhnya dari awal pada setiap kunjungan.
Cache untuk pengguna yang sedang login tidak digunakan. Sementara itu, cache komentator dan REST API tetap digunakan sesuai kebutuhan.
Untuk perangkat, cache mobile dan tablet tidak dibuat sebagai cache terpisah.
Pendekatan tersebut cocok apabila website menggunakan desain responsif yang menghasilkan tampilan berdasarkan ukuran layar, bukan menghasilkan halaman HTML yang benar-benar berbeda untuk perangkat tertentu.
Dengan demikian, jumlah variasi cache dapat tetap terkendali.

2. Mengatur TTL Cache
Setelah cache halaman aktif, bagian berikutnya yang perlu diperhatikan adalah TTL atau Time To Live.
TTL menentukan berapa lama sebuah data cache dapat digunakan sebelum dianggap kedaluwarsa.
Pada konfigurasi Navin.id, beberapa nilai TTL yang digunakan adalah:
- Public Cache TTL: 604800 detik
- Private Cache TTL: 1800 detik
- Homepage TTL: 604800 detik
- Feed TTL: 604800 detik
- REST TTL: 604800 detik
- 404 TTL: 3600 detik
- 500 TTL: 600 detik
Public Cache TTL 604800 detik setara dengan satu minggu.
Untuk website yang kontennya tidak berubah setiap menit, masa cache tersebut dapat membantu mengurangi pemrosesan halaman secara berulang.
Sementara itu, cache privat menggunakan 1800 detik atau sekitar 30 menit.
Untuk halaman error, masa cache dibuat lebih pendek. Halaman 404 menggunakan satu jam dan halaman 500 menggunakan sepuluh menit.
Tujuannya sederhana: halaman publik dapat memperoleh manfaat dari cache yang relatif panjang, sedangkan halaman error tidak perlu disimpan terlalu lama.

Alt text gambar:Pengaturan TTL LiteSpeed Cache untuk website WordPress
3. Mengatur Pembersihan Cache
Cache yang baik juga membutuhkan sistem pembersihan yang tepat.
Bayangkan sebuah artikel diperbarui, tetapi cache lama masih digunakan. Pengunjung mungkin belum langsung melihat perubahan tersebut.
Karena itu, pengaturan purge menjadi bagian penting dari sistem cache.
Pada Navin.id, pembersihan cache ketika terjadi pembaruan digunakan untuk beberapa area penting, termasuk halaman depan, halaman, widget artikel terbaru, arsip penulis, arsip post type, arsip bulanan, dan arsip term.
Pendekatan ini membantu menjaga hubungan antara perubahan konten dengan halaman yang menyimpan cache.
Selain itu, fitur Serve Stale digunakan.
Fitur ini memungkinkan versi cache yang masih tersedia tetap dapat disajikan ketika cache baru sedang diproses.
Untuk website yang aktif menerbitkan artikel, pendekatan tersebut dapat membantu menjaga pengalaman pengunjung tetap stabil.
4. Jangan Terlalu Banyak Membuat Pengecualian Cache
LiteSpeed Cache menyediakan berbagai kolom untuk mengecualikan URL, query string, cookie, kategori, tag, maupun user agent.
Namun, tidak berarti semuanya harus diisi.
Pada Navin.id, sebagian besar daftar pengecualian dibiarkan kosong.
Administrator dikecualikan dari cache sehingga aktivitas di dashboard WordPress tidak tercampur dengan halaman publik yang telah dicache.
Prinsip yang digunakan adalah:
buat pengecualian hanya ketika memang ada kebutuhan.
Jika sebuah halaman bekerja dengan baik tanpa pengecualian, tidak perlu menambahkan aturan tambahan.
Semakin sedikit aturan khusus yang digunakan, semakin mudah konfigurasi tersebut dipelihara.
5. ESI atau Edge Side Includes
ESI atau Edge Side Includes memungkinkan bagian tertentu dari halaman diperlakukan secara berbeda dalam sistem cache.
Fitur ini berguna ketika sebuah halaman memiliki bagian yang bersifat dinamis sementara bagian lainnya dapat menggunakan cache.
Pada konfigurasi Navin.id, ESI utama tidak diaktifkan.
Namun, Cache Admin Bar dan Cache Comment Form tetap aktif.
Pendekatan tersebut dipilih karena website tidak membutuhkan struktur ESI yang kompleks.
Jika sebuah website tidak memiliki kebutuhan khusus terhadap ESI, membiarkannya nonaktif dapat membuat sistem lebih sederhana.
Alt text gambar:Pengaturan ESI LiteSpeed Cache pada WordPress

6. Menggunakan Redis untuk Object Cache
Selain page cache, WordPress juga dapat memanfaatkan Object Cache.
Object Cache membantu menyimpan data yang sering diminta sehingga proses pengambilan data dapat dilakukan dengan lebih efisien.
Pada Navin.id, Object Cache menggunakan Redis.
Konfigurasi yang digunakan menunjukkan:
- Object Cache: aktif
- Metode: Redis
- Koneksi persisten: aktif
- TTL object cache: 360 detik
- Database Redis: 0
- WP-Admin cache: nonaktif
Koneksi persisten digunakan agar komunikasi dengan Redis dapat berlangsung secara efisien tanpa harus membuat koneksi baru secara terus-menerus.
Jangan tampilkan informasi koneksi Redis secara publik
Ini penting ketika screenshot akan digunakan dalam artikel.
Bagian host atau socket Redis dapat memperlihatkan informasi lingkungan server. Informasi tersebut tidak perlu diketahui pembaca.
Karena itu, sebelum screenshot diterbitkan, bagian berikut sebaiknya disensor jika terlihat:
- hostname internal;
- path server;
- username;
- password;
- alamat IP internal;
- token;
- credential;
- API key.
7. Browser Cache
Browser Cache bekerja sedikit berbeda dengan page cache.
Jika page cache membantu server menyajikan halaman yang sudah disimpan, browser cache membantu browser pengunjung menyimpan resource tertentu secara lokal.
Pada konfigurasi Navin.id, Browser Cache diaktifkan dengan TTL:
31557600 detik
Nilai tersebut setara dengan sekitar satu tahun.
Pengaturan seperti ini dapat membantu resource statis tidak perlu diunduh kembali terlalu sering.
Namun, TTL yang panjang idealnya digunakan bersama mekanisme versioning atau cache busting. Dengan begitu, ketika file CSS atau JavaScript berubah, browser dapat mengenali bahwa file tersebut merupakan versi baru.
8. Pengaturan Tingkat Lanjut
Bagian Advanced atau Tingkat Lanjut sebaiknya diperlakukan dengan hati-hati.
Pada Navin.id, TTL AJAX tidak diisi.
Login cookie juga tidak ditambahkan secara khusus, begitu pula Cookie Vary.
Pengaturan kompatibilitas HTTP/HTTPS tidak digunakan dan Instant Click tetap nonaktif.
Hal ini bukan berarti fitur tersebut buruk.
Justru prinsipnya adalah menggunakan fitur sesuai kebutuhan.
Jika sebuah fitur belum memberikan manfaat yang jelas bagi website, membiarkannya nonaktif dapat membuat konfigurasi lebih sederhana.
9. Menggunakan QUIC.cloud sebagai CDN
CDN menjadi bagian berikutnya dari optimasi Navin.id.
Website menggunakan QUIC.cloud yang terintegrasi dengan LiteSpeed Cache.
Pada dashboard yang diuji, status menunjukkan:
- CDN in Use;
- DNS Verified;
- SSL Certificate is Valid.
Artinya, CDN telah digunakan, DNS telah diverifikasi, dan sertifikat SSL berada dalam kondisi valid.
CDN dapat membantu menyajikan resource dari jaringan distribusi sehingga pengunjung tidak selalu mengambil data langsung dari server asal.
Namun, penting untuk memahami bahwa CDN bukan tombol ajaib yang otomatis membuat semua website mendapatkan skor sempurna.
Hasilnya tetap dipengaruhi oleh:
- lokasi pengunjung;
- cache hit;
- kondisi server;
- jaringan;
- konfigurasi DNS;
- ukuran resource;
- script pihak ketiga;
- dan struktur website.
Pada konfigurasi ini, tidak digunakan Cloudflare sebagai CDN tambahan. Dengan demikian, arsitektur CDN tetap lebih sederhana.
10. Optimasi Gambar untuk JNews
Gambar merupakan salah satu bagian yang sangat penting bagi website JNews.
Website berita dan portal biasanya menggunakan banyak gambar untuk featured image, thumbnail, grid artikel, widget, serta gambar di dalam artikel.
Jika gambar terlalu besar, browser harus mengunduh lebih banyak data.
Karena itu, optimasi gambar menjadi salah satu bagian penting dari setting LiteSpeed Cache untuk JNews.
Pada Navin.id, beberapa pengaturan yang digunakan antara lain:
- Auto Request Cron: aktif;
- Optimasi gambar asli: aktif;
- Hapus cadangan asli: nonaktif;
- Lossless optimization: nonaktif;
- WebP: aktif;
- EXIF/XMP: tidak disimpan;
- kualitas gambar: 82.
Backup gambar asli tetap dipertahankan.
Ini merupakan pilihan yang cukup aman untuk proses optimasi karena file sumber masih tersedia apabila suatu saat diperlukan.
WebP untuk gambar
Format Next-Gen yang digunakan adalah WebP.
LiteSpeed Cache juga dikonfigurasi untuk mengganti resource gambar tertentu dengan versi WebP pada atribut yang relevan.
Selain gambar WordPress standar, berbagai ukuran gambar yang digunakan oleh JNews juga dipilih untuk proses optimasi.
Ini penting karena JNews dapat menggunakan beberapa ukuran thumbnail dalam satu website.
11. Optimasi CSS
CSS memiliki peran besar terhadap tampilan JNews.
Karena itu, optimasi CSS harus dilakukan dengan hati-hati.
Pada konfigurasi Navin.id:
- Minify CSS: aktif;
- Combine CSS: aktif;
- UCSS: aktif;
- UCSS Inline: nonaktif;
- Combine External and Inline CSS: aktif;
- CSS Asinkron: nonaktif;
- CCSS per URL: aktif;
- Font Display: Swap.
UCSS membantu mengurangi CSS yang tidak diperlukan pada halaman tertentu.
CCSS atau Critical CSS per URL juga digunakan agar bagian CSS penting dapat disiapkan berdasarkan halaman.
Sementara itu, Font Display menggunakan Swap.
Pengaturan tersebut membantu teks tetap dapat ditampilkan ketika font web belum selesai dimuat.

12. Mengapa Combine CSS Tidak Boleh Diterapkan Secara Buta?
Combine CSS dapat mengurangi jumlah file yang perlu diproses browser, tetapi tidak selalu memberikan hasil yang sama pada setiap website.
Tema seperti JNews memiliki banyak komponen.
Karena itu, setelah mengaktifkan kombinasi CSS, periksa:
- header;
- menu;
- menu mobile;
- grid artikel;
- thumbnail;
- sidebar;
- widget;
- footer;
- tombol;
- halaman artikel;
- dan tampilan responsif.
Jika semuanya tetap normal, konfigurasi dapat dipertahankan.
Jika ada bagian yang berubah, lebih baik mencari sumber masalahnya daripada langsung menonaktifkan seluruh optimasi.
13. Optimasi JavaScript
JavaScript merupakan bagian lain yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
Pada konfigurasi Navin.id:
- Minify JS: aktif;
- Combine JS: nonaktif;
- Combine External and Inline JS: nonaktif;
- Defer/Delay JS: menggunakan mode Ditunda.
jQuery dan jQuery.min.js dimasukkan ke dalam pengecualian.
Selain itu, pada pengecualian JavaScript yang ditunda terdapat:
- jquery.js;
- jquery.min.js;
- gtm.js;
- analytics.js.
Pengecualian ini bukan aturan wajib untuk semua website.
Daftar tersebut digunakan berdasarkan kebutuhan dan kompatibilitas website yang sedang dioptimasi.

14. Apa yang Harus Diuji Setelah JavaScript Ditunda?
Setelah mengubah pengaturan JavaScript, jangan hanya membuka halaman depan.
Coba beberapa fungsi website.
Pastikan:
- menu desktop bekerja;
- menu mobile bekerja;
- dropdown berfungsi;
- pencarian dapat digunakan;
- slider berjalan;
- tombol interaktif berfungsi;
- formulir dapat digunakan;
- AJAX tidak bermasalah;
- widget tetap muncul;
- artikel tetap dapat dibaca dengan normal.
Jika semuanya berjalan dengan baik, optimasi JavaScript dapat dipertahankan.
15. Optimasi HTML
Minify HTML digunakan untuk mengurangi bagian markup yang tidak diperlukan.
Pada Navin.id, Minify HTML diaktifkan.
Sementara itu, beberapa fitur lainnya tetap dibiarkan nonaktif, seperti:
- DNS Prefetch otomatis;
- DNS Preconnect;
- HTML delayed-load selector;
- Remove Query Strings;
- Load Google Fonts Asynchronously;
- Remove Google Fonts;
- Remove noscript.
WordPress Emoji dihapus.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa optimasi tidak selalu berarti mengaktifkan semua opsi.
Yang lebih penting adalah mengetahui fungsi setiap fitur dan menggunakannya sesuai kebutuhan.

16. Lazy Load untuk Gambar
Lazy Load Images diaktifkan pada konfigurasi Navin.id.
Fungsinya adalah menunda pemuatan gambar yang belum berada di area pandang.
Misalnya, sebuah artikel memiliki 20 gambar.
Tidak semua gambar tersebut harus diunduh sekaligus ketika pengunjung baru membuka bagian paling atas artikel.
Gambar yang berada jauh di bawah halaman dapat dimuat ketika diperlukan.
Pendekatan tersebut membantu mengurangi pekerjaan awal browser.
Responsive Placeholder juga digunakan untuk membantu menyediakan ruang bagi gambar sebelum gambar sebenarnya selesai dimuat.
17. Lazy Load Iframe
Selain gambar, iframe juga dapat menjadi resource yang cukup berat.
Contohnya adalah embed video atau konten eksternal.
Karena itu, Lazy Load Iframes juga diaktifkan.
Dengan pengaturan ini, iframe yang belum diperlukan dapat ditunda sampai waktunya tepat untuk dimuat.
Hal tersebut dapat membantu mengurangi beban awal halaman, terutama pada artikel yang memiliki banyak embed.
18. Add Missing Image Dimensions
Add Missing Image Dimensions juga digunakan.
Pengaturan ini membantu browser mengetahui dimensi gambar sehingga ruang yang dibutuhkan dapat dipersiapkan lebih awal.
Hal tersebut penting untuk membantu mengurangi perubahan posisi elemen ketika gambar selesai dimuat.
Dengan kata lain, optimasi ini bukan hanya berkaitan dengan kecepatan, tetapi juga kestabilan tampilan halaman.
19. Viewport Images atau VPI
VPI atau Viewport Images digunakan untuk membantu menentukan gambar yang berada di area pandang awal.
Pada konfigurasi Navin.id, VPI diaktifkan.
Cron VPI juga diaktifkan.
Dengan pendekatan ini, LiteSpeed dapat membantu membedakan gambar yang penting untuk area awal halaman dengan gambar yang berada lebih jauh.
Ini sangat relevan untuk website JNews karena featured image atau gambar utama artikel biasanya berada di area yang penting bagi pengguna.
20. Pengecualian Media
Lazy Load tidak selalu cocok diterapkan kepada semua gambar.
Logo, gambar tertentu, preview, atau elemen yang harus tampil sejak awal dapat membutuhkan pengecualian.
Pada Navin.id terdapat pengecualian nama kelas:
wmu-preview-img
dan
jeg_logo_img
Pengecualian tersebut merupakan bagian dari struktur situs yang sedang digunakan dan bukan daftar wajib untuk seluruh pengguna JNews.
Jika logo atau gambar penting tampil terlambat, lakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Setelah penyebab diketahui, pengecualian dapat dibuat secara spesifik.
21. Cache Gravatar
Pada pengaturan Pelokalan, Cache Gravatar diaktifkan.
Cron Cache Gravatar juga aktif.
TTL Gravatar ditetapkan:
604800 detik atau satu minggu.
Dengan cache tersebut, avatar Gravatar yang digunakan berulang dapat disimpan sehingga permintaan ke sumber eksternal tidak selalu dilakukan dari awal.
Localize Resources tetap tidak digunakan.
Pendekatan ini menjaga konfigurasi tetap sederhana dan fokus pada fitur yang memang diperlukan.
22. Optimasi Basis Data
Database juga perlu mendapatkan perhatian.
LiteSpeed Cache menyediakan pengaturan untuk jumlah revisi artikel yang dapat dipertahankan.
Pada Navin.id, jumlah maksimal revisi ditetapkan:
10 revisi.
Usia maksimal revisi ditetapkan:
0 hari.
Nilai tersebut tidak berarti seluruh revisi langsung dihapus.
Pengaturan ini bekerja bersama proses pembersihan revisi.
Untuk website yang masih aktif mengedit artikel, mempertahankan sejumlah revisi terbaru memberikan manfaat karena versi sebelumnya masih dapat digunakan ketika diperlukan.
23. Mengapa Crawler LiteSpeed Tidak Diaktifkan?
Crawler merupakan fitur yang dapat digunakan untuk membantu mengisi cache secara otomatis.
Namun, crawler juga menghasilkan permintaan tambahan ke server.
Pada Navin.id, crawler dibiarkan nonaktif.
Menariknya, nilai interval crawler yang tersedia adalah:
302400 detik
atau sekitar tiga hari dua belas jam.
Batas beban peladen ditetapkan:
1
Sitemap khusus tidak digunakan.
Simulasi peran juga kosong.
Simulasi cookie juga tidak digunakan.
Untuk website yang cache-nya sudah berjalan dengan baik, crawler tidak selalu harus diaktifkan.
Menonaktifkannya dapat menjadi pendekatan yang lebih sederhana untuk menjaga beban server tetap terkendali.
24. Jangan Mengejar Skor PageSpeed dengan Mengorbankan Fungsi Website
Ini merupakan bagian yang sangat penting.
PageSpeed Insights memang berguna untuk mengukur performa, tetapi skor bukan satu-satunya tujuan optimasi.
Website yang memperoleh skor tinggi tetapi menu rusak tentu bukan hasil optimasi yang baik.
Begitu pula halaman yang sangat cepat tetapi gambar utama tidak muncul dengan benar.
Karena itu, setiap perubahan LiteSpeed Cache harus diikuti dengan pengujian nyata.
Periksa website sebagai pengunjung biasa.
Buka halaman artikel.
Klik menu.
Gunakan pencarian.
Coba tampilan mobile.
Scroll halaman.
Perhatikan gambar.
Periksa widget.
Pastikan tidak ada elemen penting yang menghilang.
Dengan cara tersebut, optimasi tidak hanya berorientasi pada angka, tetapi juga pada pengalaman pengguna.
25. Cara Menguji Setting LiteSpeed Cache untuk JNews
Setelah mengubah pengaturan, lakukan langkah berikut secara berurutan.
Pertama, simpan perubahan.
Kedua, bersihkan cache LiteSpeed.
Ketiga, buka website sebagai pengunjung.
Keempat, periksa halaman utama.
Kelima, periksa beberapa artikel.
Keenam, periksa kategori dan halaman statis.
Ketujuh, uji menu mobile.
Kedelapan, periksa gambar dan thumbnail.
Kesembilan, uji fitur interaktif.
Setelah semuanya berjalan normal, lanjutkan ke pengujian PageSpeed Insights.
Sebaiknya pengujian dilakukan lebih dari satu kali karena hasil dapat berubah berdasarkan kondisi jaringan, lokasi pengujian, cache, server, resource eksternal, dan waktu pengujian.
26. Hasil Pengujian Navin.id
Setelah konfigurasi LiteSpeed Cache diterapkan dan dilakukan pengujian, hasil desktop Navin.id menunjukkan:
Performance: 100
Accessibility: 90
Best Practices: 100
SEO: 100
Hasil tersebut menjadi salah satu indikator bahwa konfigurasi yang digunakan dapat bekerja dengan baik pada kondisi website saat pengujian dilakukan.
Namun, angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai jaminan bahwa semua website JNews akan memperoleh skor yang sama.
Setiap website memiliki kondisi berbeda.
Perubahan plugin, script pihak ketiga, iklan, gambar, hosting, CDN, konten, dan konfigurasi dapat memengaruhi hasil.
27. Konfigurasi LiteSpeed Cache yang Digunakan pada Navin.id
Jika seluruh pembahasan dirangkum, pola konfigurasi Navin.id kurang lebih seperti berikut.
| Area | Konfigurasi |
|---|---|
| Page Cache | Aktif |
| Cache Logged-in User | Nonaktif |
| Cache Commenter | Aktif |
| Cache REST API | Aktif |
| Cache Mobile | Nonaktif |
| Cache Tablet | Nonaktif |
| Public Cache TTL | 604800 detik |
| Private Cache TTL | 1800 detik |
| Homepage TTL | 604800 detik |
| Feed TTL | 604800 detik |
| REST TTL | 604800 detik |
| 404 TTL | 3600 detik |
| 500 TTL | 600 detik |
| Serve Stale | Aktif |
| ESI Utama | Nonaktif |
| Object Cache | Aktif |
| Object Cache Method | Redis |
| Redis Persistent Connection | Aktif |
| Redis TTL | 360 detik |
| Browser Cache | Aktif |
| Browser Cache TTL | 31557600 detik |
| QUIC.cloud CDN | Aktif |
| Image Optimization | Aktif |
| WebP | Aktif |
| Image Quality | 82 |
| CSS Minify | Aktif |
| CSS Combine | Aktif |
| UCSS | Aktif |
| CCSS per URL | Aktif |
| CSS Async | Nonaktif |
| JS Minify | Aktif |
| JS Combine | Nonaktif |
| JS Ditunda | Aktif |
| HTML Minify | Aktif |
| WordPress Emoji Removal | Aktif |
| Lazy Load Image | Aktif |
| Lazy Load Iframe | Aktif |
| Add Missing Image Dimensions | Aktif |
| VPI | Aktif |
| Cache Gravatar | Aktif |
| Database Revision | 10 |
| Crawler | Nonaktif |
Konfigurasi tersebut memperlihatkan satu prinsip yang cukup jelas: fitur penting dimanfaatkan, sementara fitur yang belum diperlukan tidak dipaksakan aktif.
28. Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Ada beberapa kesalahan umum ketika melakukan optimasi LiteSpeed Cache untuk JNews.
Mengaktifkan semua fitur sekaligus
Ini membuat proses troubleshooting menjadi lebih sulit.
Jika ada elemen yang rusak, kita tidak tahu perubahan mana yang menjadi penyebabnya.
Lebih baik aktifkan satu kelompok optimasi, kemudian lakukan pengujian.
Menyalin setting website lain secara mentah
Konfigurasi LiteSpeed Cache sangat bergantung pada website.
Setting yang cocok untuk satu website belum tentu cocok untuk website lainnya.
Terutama pada bagian CSS, JavaScript, pengecualian, dan cache dinamis.
Menambahkan terlalu banyak pengecualian
Pengecualian memang berguna, tetapi terlalu banyak pengecualian dapat mengurangi manfaat optimasi.
Gunakan pengecualian berdasarkan masalah nyata.
Menghapus backup gambar terlalu cepat
Selama proses optimasi masih berlangsung, menyimpan backup gambar asli memberikan ruang untuk melakukan pemulihan apabila diperlukan.
Mengubah banyak plugin optimasi sekaligus
Jika LiteSpeed Cache sudah menangani minifikasi, lazy load, cache, dan optimasi gambar, perhatikan plugin lain yang mungkin melakukan fungsi serupa.
Dua sistem yang mengoptimalkan resource yang sama dapat menimbulkan konflik.
29. Bagaimana Menjaga JNews Tetap Stabil Setelah Update?
Optimasi tidak berhenti setelah semua pengaturan selesai.
JNews dan plugin WordPress dapat menerima pembaruan.
Setelah update besar, lakukan pemeriksaan ulang.
Periksa:
- halaman depan;
- single post;
- kategori;
- menu;
- widget;
- footer;
- gambar;
- slider;
- mobile layout;
- JavaScript;
- CSS;
- dan fungsi pencarian.
Jika tampilan berubah setelah update, jangan langsung menyalahkan LiteSpeed Cache.
Cari tahu perubahan terakhir yang dilakukan.
Bisa saja masalah berasal dari update tema, plugin, CSS custom, JavaScript, atau perubahan resource eksternal.
Pendekatan troubleshooting yang sistematis akan membuat website jauh lebih mudah dirawat.
30. Apakah Semua Pengaturan Ini Wajib untuk JNews?
Tidak.
Ini penting untuk ditegaskan.
Tidak ada satu konfigurasi LiteSpeed Cache yang wajib digunakan oleh seluruh pengguna JNews.
Ada website JNews yang mungkin membutuhkan ESI.
Ada website yang membutuhkan pengecualian JavaScript lebih banyak.
Ada website yang tidak menggunakan Redis.
Ada juga website yang tidak membutuhkan CDN.
Konfigurasi Navin.id adalah sebuah contoh konfigurasi nyata yang telah diuji pada lingkungan website tertentu.
Karena itu, gunakan prinsipnya, bukan hanya angkanya.
Jika website kamu sudah stabil dengan setting tertentu, tidak perlu mengubahnya hanya karena melihat konfigurasi website lain.
31. Prinsip Utama Optimasi LiteSpeed Cache untuk JNews
Jika harus diringkas menjadi beberapa prinsip sederhana, saya akan menggunakan pendekatan berikut.
Pertama, stabilkan cache halaman terlebih dahulu.
Cache merupakan fondasi. Pastikan halaman publik dapat dicache dengan benar sebelum masuk ke optimasi lainnya.
Kedua, gunakan Redis jika lingkungan server mendukungnya.
Object Cache dapat membantu mengurangi pekerjaan berulang WordPress.
Ketiga, gunakan CDN dengan konfigurasi yang jelas.
Pada Navin.id, QUIC.cloud digunakan sebagai CDN yang terintegrasi dengan LiteSpeed.
Keempat, prioritaskan gambar.
JNews sangat bergantung pada gambar, sehingga WebP, optimasi ukuran, lazy load, dan VPI menjadi bagian yang penting.
Kelima, lakukan optimasi CSS dan JavaScript secara bertahap.
Jangan langsung mengejar konfigurasi paling agresif.
Keenam, uji setiap perubahan.
Ini adalah prinsip yang paling penting.
32. Kesimpulan
Setting LiteSpeed Cache untuk JNews tidak harus rumit apabila dilakukan secara bertahap.
Mulailah dari cache halaman, kemudian atur TTL dan purge. Setelah fondasi tersebut stabil, lanjutkan dengan Object Cache Redis, CDN, optimasi gambar, CSS, JavaScript, HTML, dan media.
Pada Navin.id, konfigurasi yang digunakan menggabungkan beberapa fitur utama LiteSpeed Cache, termasuk Redis, QUIC.cloud, WebP, UCSS, minifikasi CSS dan JavaScript, lazy load, serta Viewport Images.
Namun, tidak semua fitur dibuat aktif.
Crawler tetap nonaktif.
ESI utama tetap nonaktif.
CSS Asinkron tetap nonaktif.
Combine JavaScript juga tidak digunakan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa optimasi yang baik bukan tentang mengaktifkan sebanyak mungkin fitur.
Optimasi yang baik adalah menemukan konfigurasi yang memberikan manfaat tanpa mengganggu fungsi website.
Untuk pengguna JNews, hal ini menjadi semakin penting karena tema memiliki banyak komponen visual dan interaktif. Setiap perubahan pada CSS, JavaScript, cache, atau media perlu diuji dari sisi performa sekaligus tampilan.
Hasil pengujian Navin.id menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dapat menghasilkan performa yang sangat baik. Pada pengujian desktop, website memperoleh Performance 100, Best Practices 100, dan SEO 100, dengan Accessibility 90.
Namun, skor tersebut tetap merupakan hasil pengujian pada kondisi tertentu. Performa website dapat berubah seiring bertambahnya konten, plugin, script pihak ketiga, perubahan server, CDN, maupun konfigurasi lainnya.
Karena itu, jangan menjadikan angka PageSpeed sebagai satu-satunya tujuan.
Tujuan sebenarnya adalah membuat website cepat, stabil, ringan, mudah dirawat, dan nyaman digunakan pengunjung.
Jika prinsip tersebut menjadi dasar optimasi, LiteSpeed Cache dan JNews dapat bekerja bersama dengan lebih seimbang.






















