Cinta bukan tentang seseorang yang terus-menerus membangunkan kita dari tidur. Cinta juga tentang keberanian untuk terbangun, memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan ketika orang yang kita cintai tidak lagi berada di samping kita.
Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Arga. Ia memiliki kekasih bernama Naira, seorang wanita yang sabar, lembut, dan selalu berusaha memahami kekurangan orang yang dicintainya.
Namun, ada satu kebiasaan Arga yang sering membuat Naira menghela napas panjang: Arga selalu bangun kesiangan.
Ketika matahari sudah tinggi dan orang-orang mulai sibuk dengan pekerjaan mereka, Arga justru baru membuka mata. Alarm ponselnya sudah berbunyi berkali-kali, tetapi semuanya berakhir dengan cara yang sama. Ia menekan tombol tunda, menarik selimut, lalu kembali terlelap.
Bagi Arga, bangun pagi adalah perjuangan yang terasa lebih berat daripada pekerjaan apa pun.
Padahal, jauh di dalam hatinya, ia ingin berubah.
Ia ingin menjadi pemuda yang bangun sebelum matahari terbit, menunaikan ibadah subuh tepat waktu, berolahraga, membantu orang tuanya, dan memulai hari dengan penuh semangat. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa dibanggakan, terutama oleh wanita yang selama ini selalu berada di sisinya.
Sayangnya, keinginan itu sering kali hanya bertahan sampai malam.
Setiap malam, Arga berjanji kepada dirinya sendiri.
“Besok aku harus bangun subuh. Apa pun yang terjadi, aku tidak boleh kesiangan lagi.”
Ia memasang tiga alarm sekaligus. Alarm pertama pukul empat, alarm kedua pukul empat lewat lima belas, dan alarm ketiga pukul empat lewat tiga puluh.
Namun, ketika pagi tiba, semua alarm itu justru menjadi pengantar tidurnya yang semakin nyenyak.
Naira sudah berkali-kali mengingatkan Arga.
“Ga, kamu harus belajar bangun pagi. Kamu sendiri yang bilang ingin berubah, kan?”
“Iya, Nai. Besok aku pasti bangun pagi,” jawab Arga dengan penuh keyakinan.
“Jangan cuma janji, ya. Aku ingin melihat kamu benar-benar berusaha.”
Arga mengangguk sambil tersenyum. Ia tahu Naira tidak sedang memarahinya. Wanita itu hanya ingin melihatnya menjadi pribadi yang lebih baik.
Keesokan harinya, Naira kembali mengirimkan pesan ketika waktu subuh tiba.
“Sayang, sudah bangun? Yuk, mulai hari ini dengan hal baik.”
Arga yang masih terbaring di tempat tidur membaca pesan itu dengan mata setengah terbuka. Ia berniat membalasnya, tetapi rasa kantuk kembali menguasainya.
Dua jam kemudian, ia baru benar-benar bangun.
Pesan Naira masih terpampang di layar ponselnya.
Arga menatapnya lama. Ada rasa bersalah yang perlahan memenuhi dadanya.
Ia bukan tidak peduli. Ia bukan pula tidak ingin berubah. Hanya saja, setiap kali berhadapan dengan rasa kantuk, tekadnya seolah kehilangan kekuatan.
Dan yang paling menyakitkan, ia mulai merasa telah mengecewakan orang yang paling tulus mendukungnya.
Hari-hari berlalu. Naira tetap sabar.
Kadang-kadang ia menelepon Arga saat subuh. Kadang ia mengirimkan pesan penyemangat. Pada kesempatan lain, ia mengajak Arga membuat tantangan sederhana: siapa yang lebih dulu bangun, dialah yang boleh memilih tempat makan untuk akhir pekan.
Arga mencoba semuanya.
Ia pernah meletakkan ponsel jauh dari tempat tidur agar terpaksa bangun untuk mematikan alarm. Ia pernah tidur lebih awal, mengurangi waktu bermain ponsel pada malam hari, bahkan meminta ibunya membangunkannya.
Beberapa hari pertama berjalan baik.
Arga berhasil bangun pagi selama dua hari berturut-turut. Pada hari ketiga, ia kembali tidur setelah mematikan alarm.
Pada percobaan berikutnya, ia berhasil selama empat hari. Namun, setelah begadang sekali saja, kebiasaannya kembali seperti semula.
Setiap kegagalan membuatnya semakin kecewa kepada dirinya sendiri.
“Aku ini sebenarnya kenapa, sih?” gumamnya suatu pagi. “Aku ingin berubah, tapi kenapa selalu begini?”
Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi cahaya matahari yang sudah menembus jendela. Di luar, orang-orang telah memulai aktivitas mereka. Sementara itu, ia baru saja memulai hari dengan perasaan menyesal.
Arga tidak menyadari bahwa bagi Naira, semua itu perlahan menjadi luka.
Bukan karena Arga selalu bangun siang semata, melainkan karena janji yang terus diulang tanpa perubahan nyata.
Naira mulai bertanya-tanya, apakah laki-laki yang dicintainya itu benar-benar ingin memperbaiki diri atau hanya ingin menenangkannya setiap kali ia mengeluh.
























